Memaparkan catatan dengan label Cerita. Papar semua catatan

Mahar Seribu Menara...

Posted by Nur Islam on 06 September 2010. Filed under:
No Comments »



Wuih Maharnya Mesjid Seribu Menara!!!
Alkisah seorang pemuda melamar seorang gadis. Ketika si pemuda mengutarakan maksutnya si gadis pun menyambutnya dengan baik kesempatan itu tapi dia mengajukan satu syarat yaitu minta dibuatin mesjid dengan seribu menara sebagai maharnya dan harus dibikin selesai dalam waktu satu malam! Nah lho kayak cerita-cerita jaman dulu aja?? Tapi anehnya, ternyata si pemuda menyanggupinya dan berhasilah dia membuat mesjid seribu menara itu dalam satu malam. Kebut-kebutan sih. Tapi berhasil juga kok. Pada akhirnya si gadis pun takluk oleh pemuda itu. Mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Klise banget? Khayal lagi!! Kok bisa ada kisah kayak gini? Ya bisa lah. Mimpi kali yeee...
Nah sementara kita tinggalkan dulu dua orang itu. Kita bicara yang lain dulu saja deh. Sadar gak sih ternyata dari kecil kita sudah sering dicekokin tentang masalah mahar nikah lho. Itu tuh yang sering diceritakan sama ibuk, nenek, kakek atau guru-guru di sekolah. Apakah itu?
Iyak jawabanmu salah! 
Yang bener tuh, Dongeng! Gimana sih?
Siapa yang tidak tahu dengan dongeng legenda Gunung Tangkuban Perahu? Legenda Candi Prambanan? Legenda Reog Ponorogo dan Legenda Gunung Bromo? Di dongeng-dongeng itu ternyata membicarakan hal yang sama sebagai alur utamanya yaitu mahar alias mas kawin. 
Lihat saja dari cerita Legenda Gunung Tangkuban Perahu dari Jawa Barat. Singkat cerita, tokoh utama yang bernama Dayang Sumbi mau menikah dengan Sangkuriang yang notabene adalah anaknya sendiri. Tapi dia mensyaratkan bahwa maharnya adalah pembangunan danau, tempat rekreasi (gaul banget sih istilahnya?) beserta Perahu besarnya sekalian. Gak tanggung-tanggung mintanya dalam satu malam. 
Selanjutnya cerita Legenda Candi Prambanan dari Jawa tengah. Saat Bandung Bondowoso, tokoh pria dalam cerita ini melamar Roro Jonggrang yang kabarnya cuantik banget, dia juga harus menerima syarat yang serupa. Roro Jonggrang masih getir-getir pada lamaran Bandung Bondowoso ini soalnya kan Kakaknya Roro Jonggrang yang bernama Prabu Baka dibunuh oleh Bandung Bondowoso. So pasti lah Jonggrang bimbang hatinya. Secara ya dilamar sama pembunuh kakaknya sendiri. Kalau kalian bagaimana? Ah gak usah dijawab. Paling juga sama. Trus akhirnya Roro Jonggrang mensyaratkan pembangunan 1000 candi. Bukan candi-candian mainan kayak yang dijual di Jogja itu lho ya. Tapi candi beneran yang gede-gede itu. Dalam waktu satu malam juga.
Terus cerita legenda Reog Ponorogo dari Jawa Timur. Kalau yang ini si Putri Raja yang ngelamar ada dua. Yang satu tampan dan baik hati dan yang satu jelek dan jahat namanya Prabu Singa Barong. Si Putri mensyaratkan mahar perkawinannya dengan iring-iringan pertunjukan yang belum perhah ada sebelumnya dan dikawal oleh seratus pemuda tampan berkuda. Singkat cerita akhirnya si Jelek tadi yang akhirnya jadi pertunjukan soalnya dia dikutuk jadi berkepala singa dan di atasnya menempel seekor burung merak.
Cerita berikutnya adalah Legenda Gunung Bromo dari Jawa Timur juga. Ceritanya si tokoh cantik yang bernama Roro Anteng hendak dipersunting oleh seorang/seekor raksasa. Maukah dia? Ternyata gak mau soalnya dia sudah kesengsem sama pemuda tampan baik hati yang bernama Joko Seger. Lagian kalaupun yang namanya Joko Seger itu gak ada pasti si Roro anteng ini juga tetap gak mau dipersunting sama Raksasa itu. Secara ya siapa mau diperistri raksasa. Jahat lagi. Kalaupun baik juga masih mikir-mikir. Nah Roro Anteng ini juga melakukan hal yang sama. Memberikan syarat yang sulit kepada sang Raksasa agar dibuatin danau dalam waktu semalam juga. Mungkin waktu itu lagi ngetrend kali ya minta dibikinin sesuatu dalam waktu semalam?
Tapi... semuanya itu berakhir sama. Penolakan dengan berbagai alasan. Dayang Sumbi yang gak mau nikah sama Sangkuriang yang sebenarnya adalah anaknya sendiri, Roro Jonggrang yang gak mau nikah sama pembunuh kakaknya, Putri Ponorogo yang gak mau nikah sama orang yang jahat dan jelek macam Prabu Singa Barong dan Roro Anteng yang gak mau nikah sama raksasa karena jahat, jelek dan dia sudah jatuh hati sama orang lain yang lebih baik. 
Sekali lagi semuanya ditolak. Toh sesakti-saktinya Sangkuriang, Bandung Bondowoso, Prabu Singa Barong dan Raksasa yang semuanya hampir berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka dalam waktu semalam, semuanya digagalkan oleh pihak perempuan dengan cara yang sama. Yaitu bikin pagi buatan. Caranya menyuruh anak buahnya agar membakar jerami kering dan sekam yang banyak agar apinya gede dan terang-benderang seolah matahari sudah terbit. Ditambah bonus suara dentuman lesung saat orang menumbuk padi di pagi hari. Tipu-tipu sih tapi berhasil juga mereka menggagalkan kerjaan para lelaki itu. Dulu kan belum ada jam. Kalau sudah ada jam pasti para lelaki itu gak bakalan gampang ditipu oleh gadis-gadis cantik itu. Pasti bakal bilang: “Ini lho masih jam dua malam kok mataharinya sudah terbit? Bohong banget tuh!”
Alhasil, Sangkuriang jadi sebel lalu menendang perahu yang masih setengah jadi sehingga tertelungkup dan berubah jadi gunung tangkuban perahu. Terus Bandung Bondowoso jadi ngambek dan gelap mata mengutuk Roro Jonggrang jadi patung (meskipun konon pada akhirnya dia menyesali perbuatannya). Lalu Raksasa yang jadi geregetan dan melemparkan batok yang tadinya digunakan untuk mengeruk tanah guna membuat danau (seberapa besar ya batoknya? Kalau batok biasa kapan selesainya bikin danau? Paling banter bikin kolam ikan mas kali) sehingga batoknya berubah jadi Gunung Batok dan danaunya jadi segoro wedi (Lautan pasir di sekitar Gunung Bromo). Enak banget jaman dulu tinggal tendang-tendang, lempar-lempar atau teriak-teriak saja jadi sesuatu yang besar. Coba sekarang lempar kotak odol lalu teriak-teriak berharap bisa berubah jadi gedung pencakar langit? Paling dikira lagi kumat. 
Hmmm.... kalau dipikir-pikir putri-putri Jawa Jaman dulu kok merepotkan banget ya? Cuma mau nolak saja gak langsung bilang. Pakai syarat-syarat yang susah-susah segala. Bahkan repotnya berurusan dengan Putri Jawa tuh gak cuma di negeri sendiri tapi sampai ke negeri tetangga, Malaysia yang waktu itu bernama kerajaan Melaka. Cerita itu tentang Legenda Puteri Gunung Ledang.
Seorang Putri Majapahit yang konon tergila-gila pada seorang duta kerajaan Melaka yang bernama Hang Tuah, nekat merantau ke Melaka demi menemui Pujaan Hatinya. Padahal di Jawa dia mau dijodohin sama Pangeran Demak. Sampai sana, bukannya ketemu sama pujaan hati, eh malah ketemu sama Sultan Melaka yang akhirnya jatuh hati pada kecantikkannya. Karena gak gampang pindah ke lain hati si Putri ini akhirnya nyepi di puncak Gunung Ledang. Karena Sultan Melaka dah ngebet banget pengen nikahin si Putri ini tadi maka dia menyuruh utusannya untuk datang melamar dan memboyong si Putri ini tadi. Ironisnya yang disuruh itu Hang Tuah sendiri yang tak lain adalah pujaan hati si Putri. Melihat kenyataan ini si Putri akhirnya merasa putus harapan dan dia mau menerima lamaran Sultan Melaka dengan syarat yang sulit yaitu pembangunan Jembatan Emas dari Puncak Gunung Ledang ke Istana Kesultanan, Jembatan Perak dari Istana Kesultanan ke Puncak Gunung Ledang, tujuh tempayan air mata perawan, tujuh dulang hati hama, tujuh dulang hati nyamuk dan syarat terberat adalah semangkuk darah putra mahkota. Yang ini akhirnya juga gagal.
Wuidih panjang banget ceritanya... tapi intinya dari semua itu adalah penolakan lamaran dengan syarat yang berbelit-belit alias gak to the poin. Ternyata hal semacam itu tidak hanya terjadi di cerita-cerita lho. Di dunia nyata juga banyak. Ketika seorang gadis yang sebenarnya belum niat menikah tapi sudah dikejar-kejar sama orang tua atau murrobi agar segera menikah. Saat ta’aruf tanyanya yang sulit-sulit, yang mojok-mojokin atau mensyaratkan mahar yang sulit juga. Hafalan 30 Juz misalnya dibayar langsung pas akad nikah. Kebayang kan? Jika si Pemuda gak sanggup maka selesailah permasalahannya tapi jika ternyata si pemuda sanggup? Cari alasan lain donk. Padahal ketika datang seorang pemuda yang jelas kesholihan dan kebaikan akhlaknya melamar seorang gadis tapi ditolak akan timbul fitnah. Cuma mau bilang tidak saja tapi ribetnya minta ampun.
Lain halnya permasalahan di pihak lelaki. Ketika mengajukan proposal minta kriteria gadis yang banyak muluk-muluknya. Kadang gak sadar dengan kekurangan diri. Saat ta’aruf bilang kurang gini lah, kurang gitu lah, cari yang lain lah. Mentang-mentang kalau lelaki bisa memilih tapi kan perempuan berhak menolak dan menerima? Toh pada akhirnya sunnah bahwa pemuda yang baik untuk gadis yang baik dan sebaliknya berlaku juga dengan syarat prosesnya benar-benar yang Islami.
Hmmm… ternyata prosesnya ribet juga ya kalau begitu? Tapi ternyata di jaman Rosululloh dan para sahabat tidak serumit itu lho. Terutama tentang masalah mahar. Ngomongin tentang mahar kayaknya kita perlu melihat seluk-beluknya di pembahasan tentang nikah berikut ini. 
Dalam pandangan Islam, seorang pemuda yang dalam usia pernikahan dan dia mampu untuk menikah, maka Rasulullah mensegerakan agar menikah "Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu telah mampu, maka hendaklan ia kawin…". Pernikahan dalam Islam dipermudah, dan perzinaan harus dimusnahkan. Lihat perintah Allah dalam Al-Qur'an Surat An-Nuur 32 yang artinya "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak kawin diantara hamba sahayamu….jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya…". Bagi yang belum mampu menikah Islam-pun menyediakan solusinya, yakni menundukkan pandangan atau berpuasa (lihat QS An-Nuur 30-33).
"Berikanlah mahar kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan ..." (QS An-Nissaa :4). 

Mahar merupakan pemberian seorang laki-laki kepada perempuan yang dinikahinya, yang selanjutnya akan menjadi hak milik istri secara penuh. Dalam praktiknya tidak ada batasan khusus mengenai besarnya mahar dalam pernikahan. Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Zaadul Maad, memberi mahar untuk istri-istrinya sebanyak 12 uqiyah. Abu Salamah menceritakan, "Aku pernah bertanya kepada A'isyah ra, "Berapakah mahar Nabi SAW untuk para istrinya?" A'isyah menjawab, "Mahar beliau untuk para istrinya adalah sebanyak 12 uqiyah dan satu nasy." Lalu A'isyah bertanya, "Tahukah kamu, berapa satu uqiyah itu?" Aku menjawab, "tidak" A'isyah menjawab, "empat puluh dirham." A'isyah bertanya, "Tahukah kamu, berapa satu nasy itu?" Aku menjawab, "tidak". A'isyah menjawab, "Dua puluh dirham". (HR. Muslim). 

Umar bin Khattab berkata, "Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW menikahi seorang pun dari istrinya dengan mahar kurang dari 12 uqiyah." (HR. Tirmidzi). 

Dalam urusan biaya pernikahan, Islam pun tidak terlalu memberatkan. Dalam kisah lain Rasulullah SAW menikahkan putrinya Fatimah dengan Ali r.a. dengan mahar baju besi milik Ali. Diriwayatkan Ibnu Abbas, "Setelah Ali menikahi Fatimah, Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Berikanlah sesuatu kepadanya." Ali menjawab, "Aku tidak mempunyai sesuatu pun." Maka beliau bersabda, "Dimana baju besimu? Berikanlah baju besimu itu kepadanya." Maka Ali pun memberikan baju besinya kepada Fatimah. (HR Abu Dawud dan Nasa'i). Selain Ali yang menyediakan baju besinya sebagai mahar, ada juga sahabat yang membayar maharnya dengan hafalan Al Qur'an-nya, dll. Bahasan di atas sesuai dengan Firman Alloh SWT dalam Al Qur’an:
Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. - QS: Al-Baqarah(2):236.

Bahkan ketika seorang laki-laki tidak memiliki sesuatu berupa harta yang dapat diberikan sebagai mahar, Rasulullah SAW tidak menolak untuk menikahkannya dengan mahar beberapa surat dalam Al-Qur'an yang dihafalnya. Dikisahkan ada seorang laki-laki yang meminta dinikahkan oleh Rasulullah, tetapi ia tidak memiliki sesuatu pun sebagai mahar, walaupun sebuah cincin dari besi. Kemudian beliau bertanya kepadanya, "Apakah engkau menghafal Al-Qur'an?" Ia menjawab, "Ya, aku hafal surat ini dan surat itu (ia menyebut beberapa surat dalam Al-Qur'an). "Maka beliau bersabda, "Aku menikahkan engkau dengannya dengan mahar surat Al-Qur'an yang engkau hafal itu!" (disarikan dari hadits yang sangat panjang dalam Kitab Shahih Bukhari Jilid IV, hadits no. 1587). 

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada batasan tentang bentuk dan besarnya mahar, tetapi yang disunnahkan adalah mahar itu disesuaikan dengan kemampuan pihak calon suami.
Nah, dari pembahasan copy paste di atas, ternyata mahar pernikahan itu gak harus yang sulit-sulit dan mahal ya? Asalkan si pemuda sanggup dan si gadis menerima alias kedua belah pihak ridho, maka mahar apapun itu tidak jadi masalah asalkan tetap dalam ranah kebaikan. Tak perlu lah mempersulit pihak lelaki sehingga harus memaksakan diri tapi pihak lelaki juga jangan meremehkan mentang-mentang dimudahkan lalu asal saja memberikan mahar. Berikanlah mahar yang terbaik yang bisa dipenuhi dan yang paling dibutuhkan pada saat itu. Janganlah berhambur-hambur di awal dan di akhirnya gak baik karena tak mampu menjaga iman dan mempertanggung jawabkannya. Lihat saja di keseharian kita para artis yang menikah dengan mahar super wah tapi pada akhirnya cerai juga. Jalan yang halal namun dibenci Alloh SWT. Mahar sederhana saja tak apa asalkan pada saat menjalaninya langgeng, bahagia, penuh keberkahan dan ridho-Nya.
Teringat pernikahan teman beberapa waktu silam. Dengan mahar uang tunai 200 ribu saja yang murni dari hasil jerih payahnya sendiri (bukan dari orang tua) dan hafalan surat Muhammad maka resmi menikahlah keduanya dan InsyaAlloh segera dikaruniai Mujahid kecil sebentar lagi. Amiin. Masalah rizki serahkan saja kepada Alloh SWT. Percaya saja sama Janji-Nya. Kita Cuma bisa ikhtiar dan tetap Alloh jua lah yang menentukan. 
Mahar juga gak harus seperti yang lagi ngetrend sekarang ini. Al Qur’an dan seperangkat alat sholat. Pernahkah membaca kisah para sahabat yang memberikan mahar sebagaimana Trend yang berkembang di tengah masyarakat kita sekarang ini? Kalau saya sih belum.
Mari kita renungi pula kenyataan yang ada di masyarakat. Berapa banyak pasang suami-istri yang membaca Al-Qur'an setiap hari? Atau berapa sering sang suami sholat bersama sang istri dengan Perangkat Sholat yang diberikannya?
Al-Qur'an dan Seperangkat Alat Sholat dijadikan simbol kesholehan saat pernikahan. Namun setelah itu, tak jarang Al-Qur'an hanya disimpan rapi dalam lemari, jarang disentuh, apalagi dibaca, dihayati dan diamalkan. Alangkah ironis! Padahal jika mahar itu berupa Al Qur’an dan seperangkat alat sholat, maka menjadi tanggung jawab sang suami untuk mengajarkan dan mengamalkanya bersama sang istri.
Nah, sekarang bagaimana dengan teman-teman semua? Terutama yang belum nikah nih termasuk saya juga. Hihihi.. Kelak gimana ya? Terserah kalian. Yang penting sudah ada penjelasan yang sampai kepada diri kita masing-masing.
Wah pembicaraan kita jadi makin berat dan serius ya? Cuma mau ngomongin masalah mahar saja kok sampai berbelit-belit begini. Tapi lumayan lah buat tambahan referensi dan hiburan selingan saat membacanya. Biar gak bosan kalau baca materi yang itu-itu teruuuusss, jadi ya dikasih intermezzo sedikit.
Yaudah deh kalau begitu kita kembali lagi saja kepada kisah gadis yang minta dibuatin mesjid dengan seribu menara dalam waktu semalam tadi. Usut punya usut ternyata si gadis ini adalah mahasiswi jurusan arsitektur. Si Pemuda pun juga dari jurusan yang sama tapi sudah lulus. Si gadis belum menyelesaikan proyek akhirnyanya buat bikin mesjid seribu menara padahal besoknya sudah ujian. Nah biar cepet dia minta si pemuda buat bantuin dia bikin rancangannya dalam waktu semalam sebagai salah satu mahar lamaran pemuda. Jadi mesjidnya gak betulan (Cerita yang aneh). Realistis donk hari gini mbangun mesjid pakai seribu menara dalam waktu semalam, apa kata duniaaaa...???



Aku Sayang Kamu kerana ALLAH..^_^

Posted by Nur Islam Filed under:
No Comments »





El Camino a mi casa..., ~El Paradiso
Dina Istova

KotaSantri.com - “Namaku Miranda Garza, aku seorang Spanyol yang sekarang tinggal di Indonesia. Umurku 17 tahun, aku bisa berbahasa Indonesia, senang berkenalan denganmu.”, dengan senyum ketar-ketir aku memperkenalkan diriku pada tetangga baruku di perumahan Bumi Indah. 

“Namaku Anggia Putri, senang berkenalan dengan kamu juga.” 

Itulah perkenalan singkat antara aku dengan Anggia, aku adalah seorang katolik dari keluarga yang taat beragama, sedangkan Anggia adalah seorang Muslimah yang religius. Rumah kami berdua berdekatan, saking sangat dekatnya, aku yang tomboy suka panjat genting rumahnya agar dapet langsung masuk ke kamar Anggia. Maklumlah soalnya rumah kami berdua ini saling berdempetan satu sama lain dan berlantai dua. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tapi tahun belum berganti tahun (soalnya belum nyampe hehe…). Kami telah saling mengisi satu sama lain, Aku dan Anggia menjadi teman yang baik. Aku bersekolah di Jakarta International School, sedangkan Anggia masuk di SMUN 78. kami berdua duduk di kelas 2 SMU. 

“Anggiaaa… help me!!!” Suara dari gagang telepon menyentak Anggia. 
“Kamu kenapa Mira?” 
“Aku sakit, Anggia. Estoy Enferma, Anggia.” 

Anggia segera menutup gagang teleponnya, segera ia menuju rumah tepat disampingnya. Bibi Iyem, sang pembantu rumah, mempersilahkan Anggia ke kamarku. Anggia pasti terkejut mendapati aku menangis di kamar. 

“Kamu kenapa Mira? Kenapa nangis gitu? Kamu sakit? Kamu punya masalah?” Anggia menggoyang-goyangkan tubuhku, dengan panik. 
“Kejutaaaaaaaan, hahahahaha.” Aku tertawa terbahak-bahak. 
“Eh, kamu ngerjain aku kenapa?” Anggia juga tertawa melihat dirinya dipermainkan olehku. 
“Nada (tidak apa-apa), cuman pengen tahu sebesar apa kepedulian kamu terhadapku.” Ekspresi wajahku saat itu berubah menjadi serius. 
“Eh, kamu ini kenapa? Nggak biasanya, kamu bikin aku takut, tau nggak? Aku terburu-buru, liat Jilbabku. Berantakan, dasar Mira si Badut Spanyol.” Anggia menimpali dengan tertawa kecil. 

“Anggia, rambut kamu bagus kenapa musti ditutupi?” Aku selalu saja menanyakan hal yang sama. 
“Ini aurat, jadi harus ditutupi. Ini suatu kewajiban yang Tuhan berikan kepada kita dan kita harus menjalankannya. Lagi pula aku Pede dan Happy dengan ini.” 

“Kenapa Tuhan nggak berikan kebebasan untuk kita? Tuhan itu sangat cinta dengan kita, dan kita pasti akan ke surga jika kita percaya bahwa Yesus itu lahir di dunia sebagai sang penebus dosa. Jika Yesus nggak dilahirkan maka kita semua akan ke neraka. Percaya pada Yesus itu satu-satunya jalan yang membawa ke Surga.” Diriku memberikan argument sambil memainkan rambut kemerah-merahanku. 

“Kalau benar Yesus itu satu-satunya jalan agar kita bisa membuka pintu surga, dengan kematiannya? Lantas bagaimana nasib jutaan manusia yang lahir sebelum Yesus? Apa mereka akan masuk neraka semua? Kalau Tuhan menetapkan hukum itu, namanya tidak adil.” Anggia memberi jawaban yang cukup membuatku terdiam. Setelah episode itu tak ada jawaban dariku, aku hanya manggut-manggut saja tidak tahu apa yang harus aku katakan. 

Seperti kebiasaan diriku yang tomboy, aku memulai menjadi spiderwoman, merayap diantara genteng-genteng biru agar langsung dapat masuk ke kamar Anggia. Sore itu tepat jam 3 lebih 30 menit 42 detik, dengan tas “smile” berwarna kuning di punggungku, aku telah mendarat dengan selamat di jendela kamar Anggia. Waktu itu Anggia sedang shalat Ashar, aku hanya terdiam memperhatikan apa yang sahabatku lakukan. “Sangat sederhana dan natural” begitu yang dapat aku simpulkan. Aku mengingat-ingat apa nama gerakan ini, shalat. Ya, aku telah mengingatnya. Anggia dulu pernah mengatakan kepada diriku bahwa ini adalah shalat, suatu gerakan cara menyembah ummat Islam kepada Tuhan mereka. Aku melihat Anggia telah selesai melakukan shalat, segera saja aku meraih gagang jendela kamar Anggia, dan huup, aku meloncat masuk ke kamar Anggia lewat jendela. 

“Buenos Dias Anggia, Selamat sore Anggia.” Dengan wajah yang cerah dan senyum cengir khas gaya Spanyol. 
“Selamat Sore juga.” (Anggia masih sibuk melipat rapi mukenanya.). 
“Hehehe, Anggia selesai shalat?”, tanyaku. 
“Iya”, timpalnya. 
“Kenapa nggak pakai ketua, someone like a Pastor?” tanyaku ingin tahu. 
“Mira, dalam Islam tuh nggak ada yang namanya Pastor, Pendeta, Rabbi, de el el. Nggak ada mediator diantara kita dengan Tuhan. Kita bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan.” 
“Apa kamu yakin doa kamu diterima?” Tanyaku penasaran. 
“Insya Allah, karena hal inilah yang saya yakini dan saya tidak punya keraguan tentang ini.” jawab Anggia santai. 

Oh Tuhan, dia begitu yakin dengan apa yang dia katakan, sedangkan aku selalu saja ada tanda Tanya besar dihatiku, aku selalu risau dengan hakikat Tuhan yang Trinitas, terus terang sampai saat ini aku belum paham tentang itu. Sungguh malu, Anggia selalu mengatakan padaku kalau Allah itu sempurna, satu, Dia tidak beranak dan juga tidak diperanakan, Anggia benar-benar mengerti hakekat Tuhan. Hal inilah sebenarnya yang menjawab semua keraguan-keraguanku selama ini. Tapi aku ingin sekali segera menghempasnya, aku tak mungkin mempercayai agama yang mengajarkan Teroris ini. Ya… ayahku sering bilang kalau agama inilah yang menjadikan dunia penuh dengan kebencian. Tapi segera saja prasangka burukku ini jauh-jauh pergi setelah aku melihat kemurahan hati Anggia. Dia begitu sopan dan baik. Dan yang membuatku kagum dia adalah seorang muslimah, selama bertahun-tahun aku menggambarkan orang-orang muslim itu jahat, kejam, tidak mengerti perasaan orang. Tapi setelah aku tinggal di Indonesia meninggalkan Spanyol, hal itu pupus sudah. 

Sore itu Anggia menceritakan kepadaku, selama berabad-abad Islam telah menguasai Spanyol. Islam membuat peradaban yang maju saat itu, padahal sebelum kedatangan Islam, Spanyol masih suatu bangsa yang tak mengenal jati dirinya. Ilmu pengetahuan belum banyak ditemukan. Kemudian hal itu dihancurkan oleh pasangan Raja dan Ratu beragama Kristen waktu itu, mereka membunuhi setiap warga Muslim disana. Lenyaplah peradaban itu, pembunuhan besar-besaran terjadi disana, Spanyol kota yang indah kala itu penuh dengan kejahatan & kekejaman yang dilakukan umat Kristen. Siapakah dari umat Kristen Spanyol tak akan merah mukanya, melihat pendeta-pendeta Kristen menghasut kekuatan untuk bertindak dengan kekejaman dan kebengisan setan terhadap suatu ummat yang dari mereka kita selalu menerima perlindungan dan kemanusiaan? Di bawah bangsa Arab Spanyol-lah jiwa kesatria timbul, yang kemudian diakui oleh prajurit-prajurit Kristen seakan-akan menjadi milik Kristen. Hal ini pasti akan membuat rasa sakit yang dalam bagi umat Islam, banyak masjid-masjid yang megah yang didirikan oleh Umat Islam sekarang diubah menjadi gereja-gereja suci bagi umat Kristen; Santo Cristo de Laluz, Santa Maria, Santa Tome, Santa Maria de Torenzito, sebuah nama-nama yang tak asing ditelingaku, rupanya di abad ke 14 merupakan masjid-masjid bagi Umat Muslim. 

“Islam masih akan mempersembahkan pembaktian kepada ummat manusia, karena Islam ditujukan kepada Dunia ini.” Anggia mengatakan itu dengan buku sejarah Islam ditangannya. 

Di akhir pertemuanku, Anggia memberiku sebuah buku, aku menanyakan siapa yang menulisnya. Anggia menjawab dengan senyuman di wajahnya, “Tuhan yang menulisnya.” 
“Gracias…(terima kasih).” 

Malam ini aku duduk di atas tempat tidurku, mendengarkan lagu-lagu berbahasa Spanyol kesukaanku. Baru saja lagu Concierto De Aranjuez dinyanyikan apik oleh CHANO. Kalau mendengarkan lagu-lagi ini serasa masih tinggal di Spanyol. Aku merindukan teman-temanku disana, Aku merindukan Walter Gomez, mantan pacarku yang tak lama aku telah putus dengannya setelah kepergianku menuju Indonesia. Ayahku seorang Diplomat yang diberi tugas di Indonesia. Aku tak keberatan dengan ini, karena aku suka mengunjungi tempat-tempat yang baru, dan menemukan hal-hal yang baru. Aku mematikan Tapeku, dan mengambil sebuah buku yang sore tadi Anggia telah memberinya padaku, aku membukanya… Disana terselip sebuah kertas yang sengaja Anggia berikan untukku dengan bahasa Spanyol. “El-Qur’an no es solo para Islam, El mundo no es solo para Islam, pero El Qur’an y Islam es para todos en el mundo.” 

“Al-Qur’an bukan hanya untuk Islam, Dunia ini bukan hanya untuk Islam, tetapi Al-Qur’an dan Islam untuk semua yang ada di dunia ini.” 

Aku membuka halaman-halaman Al-Qur’an itu, sedikit bingung memang, mana halaman yang pertama gumanku dalam hati. Aku membacanya, sungguh hatiku tak kuasa menahan kebenaran isi Al-Qur’an itu. Aku membaca surat Al-Ikhlas, surat berisi 4 ayat ini telah menjawab keraguanku selama ini. Sungguh mempesona dan benar gumanku dalam hati. Malam itu aku terus membaca buku itu, ada kisah tentang Isa (Yesus) ada kisah tentang Maria si perawan yang suci. Dan aku lebih mempercayai apa yang ada dalam buku ini dari pada yang aku dapatkan dari Bibelku. Sungguh jelas dan meyakinkan hatiku. 

Suara Adzan subuh membangunkan aku, tanganku masih memegang Al-Qur’an yang kemarin malam aku baca. Aku jarang sekali mendengar adzan di Spanyol, dan kini di Indonesia aku dapat mendengar suara panggilan ini 5 kali dalam sehari. 

2 tahun dari peristiwa itu, aku semakin tertarik pada Islam, aku banyak membeli buku-buku tentang Islam dalam bahasa Inggris, Spanyol dan Indonesia. Pengetahuanku bertambah, dan Anggia masih menjadi tempat yang terbaik untukku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaanku seputar Islam. Ingin sekali rasanya aku meleburkan diriku dalam Islam, tetapi rasa takutku pada ayahku mengendorkan niat ini. 

Aku kembali merayap seperti spiderwoman, untuk meraih jendela kamar Anggia. Aku hanya ingin mendengarkan Anggia mengaji Al-Qur’an, aku tahu sehabis Maghrib adalah waktu dimana dia biasanya mengaji Al-Qur’an, dia mempunyai suara yang bagus. Ingin sekali bisa seperti dia. Anggia menyelesaikan bacaan Al-Qur’annya, dan menyuruhku untuk duduk disampingnya. Dia mengatakan padaku, bahwa kematian itu sesuatu yang paling dekat dengan kita, walaupun kita membuat sebuah benteng besar untuk menghadangnya kita tidak akan mampu untuk menghadangnya. Kemudian dia melanjutkan cerita tentang Muhammad. Seorang nabi berbangsa Arab. Anggia menyuruhku untuk mengecek Bibel yang aku bawa. Yohanes 14:26, 15:26 dan 16:7. “Namun benar apa yang kukatakan padamu. Itu adalah lebih berguna bagimu, jika aku pergi. Sebab, jika aku tidak pergi, PENGHIBUR itu tidak akan datang padamu. Tetapi jika aku pergi, aku akan mengutusnya kepadamu.” (Yohanes 16:7). Aku membacakan salah satu ayat apa yang Anggia minta. 

“Ahmad atau Muhammad adalah seorang yang terpuji, sebuah kata yang dalam bahasa Yunani hampir sama dengan “Periclytos”. Sementara pada Injil Yohanes sekarang, misalnya pada ayat 16:7, kata Penghibur untuk bahasa Indonesia, kata “Comforter” untuk versi bahasa Inggris dan kata “Paracletos” untuk versi Yunani. Yang berarti “Advocate=pembela”, sehingga berarti seseorang yang memberikan pertolongan kepada yang lain.” Anggia kemudian mengambil 2 gelas Jus Melon dari kulkasnya dan melanjutkan lagi statementnya. 

“Para teolog udah sependapat kalau “Paracletos” berasal dari kata “Periclytos” yang dalam ucapan aslinya digunakan Al-Masih untuk mengisyaratkan kedatangan “Ahmad”, pembawa misi kerasulan sesudahnya. Bahkan kalau kita baca “paraclete”, hal itu menunjukkan bahwa dia adalah Rasul yang mulia pemurah dan pengasih terhadap sesama makhluk.” Anggia mengakhirinya dan memberiku kesempatan untuk berbicara. 

“Aku suka Muhammad, dia adalah seorang pemimpin yang adil dan seorang yang hebat, aku membaca sejarah kehidupannya dari buku karangan seorang Muslim Mesir. Aku yakin apabila seseorang mempelajari hidup dan sifat Nabi dari Tanah Arab ini, yang tahu bagaimana mengajar dan bagaimana ia hidup, maka ia akan merasa lain dan akan penuh hormat kepada Nabi agung, pembawa berita dari Yang Maha Kuasa, setiap kali aku mengulangi membaca riwayatnya, aku memperoleh semangat yang baru untuk mengaguminya dengan sepenuh hatiku.”, ucapku. 

“Kamu pintar Mira, semoga Allah juga memilihmu sebagai seorang Muslimah.” Anggia mengatakan kalimat itu lagi. 

Kemudian Anggia menyuruhku untuk membuka Al-Qur’an surat ash-Shaf ayat 6 : “Dan ingatlah, ketika Isa putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel! Aku adalah utusan Allah kepadamu, untuk membenarkan taurat yang turun sebelumku dan menyampaikan berita gembira tentang kedatangan seorang rasul sesudahku, bernama Ahmad.” (QS. Ash-Shaf : 6). Aku selesai membacanya dan mulai mengerti. 

“Ahmad dalam Al-Qur’an ini adalah yang dimaksudkan Nabi Isa dalam Injilmu, dia adalah seorang penghibur, Rosul yang mulia.” Anggia menyelesaikannya dengan sangat jelas. 

Malam itu aku tak dapat tidur, aku memikirkan bagaimana nasibku jika malam ini mati dan aku masih dalam keadaan seperti ini, aku yakin Islam itu agama yang benar, bukan Katolik atau Kristen, bukan pula agama-agama yang lainnya, hanya Islamlah yang benar. Aku harus membuat suatu keputusan, dan aku harus berani untuk menjalaninya. 

Aku membuka catatan-catatan yang aku dapat dari Bibelku, banyak sekalai keraguanku tentang ayat-ayat di Bibel ini. Sering sekali pastor-pastor mengkhutbahkan kepada Jemaat Gereja dan orang-orang dimuka bumi ini bahwa Yesus dalam Bible itu sangat pemurah dan lembut menyampaikan kedamaian. Tapi kenyataannya? 

Aku membuka Lukas 12:49-53, “Aku (Yesus) datang untuk melemparkan api di bumi dan betapakah aku harapkan, api itu telah menyala. Aku harus menerima baptisan, dan betapa susahnya hatiku, sebelum hal itu berlangsung. Kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai diatas bumi? Bukan, kataku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” 

Apa benar perkataannya ini? Dia mengajarkan pertentangan? Tak heran jika orang-orang Kristen Amerika menyerang negeri-negeri Muslim. Mereka mengamalkan ajaran dari Lukas : 49-53 ini. Mereka sungguh orang yang sesat. 

Kemudian pada Lukas 14:26, ada perkataan Yesus yang menyuruh membenci keluarga, “Jika seseorang datang kepadaku dan tidak membenci bapak, ibu, istri, anak-anak dan saudara-saudara lelaki serta saudara-saudara perempuannya, ya, dan bahkan jiwanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridku…” Bukankah ini perkataan yang tidak pantas untuk dikatakan untuk seorang Yesus? 

Al-Qur’an lah sebuah Kitab suci yang memuat pernyataan yang benar tentang Yesus putra Maryam. Dia adalah seorang Rasul yang terkemuka di dunia ini dan diakherat nanti. Dia menghormati Ibunya dengan sebaik-baik penghormatan. Tidak seperti apa yang dikatakan Bibel pada Yohanes, 2:3-4 

“Ketika anggur makin berkurang, ibu Yesus mengatakan kepadanya, “Mereka tidak mempunyai anggur.” Namun yesus mengatakan kepadanya, “Apa urusanku dengan engkau, (hai) wanita?...” Yesus digambarkan pada Bible sebagai seorang yang tidak menaruh rasa hormatnya kepada sang Ibu yang telah menjaga kehormatannya itu. Sungguh benar apa yang dikatakan Anggia beberapa waktu lalu, bahwa Bibel bukanlah kitab yang asli yang diajarkan Yesus untuk orang-orang Israel. Dan Al-Qur’an lah kitab persaudaraan yang Universal dengan bahasa yang tinggi dan mengaggumkan. Al-Qur’an lah sebuah kitab suci dari Tuhan Yang Kuasa. 

Orang mengatakan bahwa orang-orang Eropa di Afrika Selatan takut akan kedatangan Islam, obor terang “Spanyol Islam” yang telah menghotbahkan kepada dunia suatu Kitab Persaudaraan. Orang-orang Eropa di Afsel sangat takut akan kedatangan Islam, karena mereka takut akan kenyataan bahwa apabila bangsa asli itu memeluk agama Islam, mereka akan menuntut hak persamaan dengan orang-orang kulit putih. Patutlah mereka takut akan hal itu. Apabila persaudaraan itu suatu dosa, kalau persamaan antara bangsa-bangsa berwarna mereka takuti, maka ketakutan itu memang berlandaskan. Karena aku telah melihat bahwa setiap orang Zulu Afrikan yang memeluk agama Kristen tidak serta merta menjadi sederajat dengan orang-orang Kristen kulit putih Eropa, sedang segera setelah ia memeluk agama Islam, ia minum satu cangkir dan makan sepiring dengan seorang Muslim lainnya; itulah yang mereka takuti. Ya, orang-orang keji Eropa sangat menakuti persaudaraan kaum muslimin. (Gumanku dalam hati). 

Aku membuka jendela kamarku dan duduk di atas genteng biru rumahku, dingin sekali rasanya, bintang-bintang sangat indah tertata rapi di langit. Berapa jumlah bintang-bintang itu ya? Gumanku dalam hati. Kemudian aku mulai menghitung-hitungnya, aku tahu aku tak akan mampu, aku tahu aku tak akan mampu untuk menghitung seberapa besar cinta dan rahmat Tuhan yang telah Ia berikan didunia ini untuk para manusia. Tetapi kebanyakan para manusia itu tidak tahu terima kasih, kebanyakan dari mereka malah mendurhakai Tuhan. Semoga saja aku bukanlah salah satu dari mereka. 

Rasanya ingin menangis, menangisi kebodohanku selama ini, diriku yang hina ini telah memfitnah Tuhan, sungguh beraninya aku mengatakan bahwa Tuhan itu mempunyai anak? Bahwa Tuhan itu Tiga? Betapa besar dosa-dosaku selama ini. Sesudah 2 tahun aku mempelajari Islam dan agama-agama lainnya, aku memperoleh perbandingan yang memuaskan antara trinitas Kristen dengan Trimurti Hindu. Dalam hindu Tuhan itu dibagi menjadi Brahma, Wisnu, Syiwa. Dan dalam agama Kristen itu menjadi “Allah Bapak, Allah anak dan Roh Kudus.” Selain itu, aku juga sampai kepada kesimpulan bahwa sakramen “Perjamuan Malam” bukan berasal dari ajaran Yesus tapi dari kebudayaan Hindu. Aku juga melihat bahwa “Kristus” berasal dari kata Karistana yang berarti Tuhan Anak dalam teologi Trinitas dan trimurti Hindu. Sungguh memuakan, kenapa bisa Kristen bersumber pada agama yang menyembah binatang ini? Aku harus memilih Islam sebagai agamaku. 

Pagi-pagi sekali aku menemui Anggia, kali ini lewat pintu depan karena aku lihat jendela kamar Anggia masih tertutup. Yusuf adik Anggia membukakan pintu untukku. Segera aku menuju ke kamar Anggia, dengan perasaan tidak sabar. Dia kaget melihatku pagi-pagi sekali datang kerumahnya. 

“Anggia, aku ingin menjadi seorang Muslimah!!! Yo quiero ser una Buena molsumana.” 

Anggia hanya terdiam melihatku baik-baik kemudian ia menangis, menangis karena bahagia dan aku dapat merasakan kebahagiaan itu. 

“Ashaduala ila hailAllah wa ashadu ana Muhammadan Rasululah, Yo atestiguo que no hay nada digno de adoraci que Alla yo atestiguo que Mujammad es el profeta de Alla.” Aku mengucapkan 2 kalimah syahadat dengan cepat. 

Saat ini aku merasakan aku dapat mencium bau surga, dan belas kasih Allah melingkupi seluruh tubuhku, kehadiran Tuhan sangat aku rasakan. Hidupku telah siap untuk perjalanan selanjutnya di dunia ini dan aku akan berjalan menuju rumahku di surga di bawah pangkuan Islam, terima kasihku kuhaturkan untuk Allah, yang telah memilihku dari sekian milyar manusia di dunia ini sebagai seorang Muslimah. 

Kuhadapkan wajahku pada Yang Kuasa, tengadahkan tanganku bersyukur kepada Allah SWT atas segala rahmat Nya dan anugerah yang indah. Karena telah menjadikan aku, seorang Spanyol berusia 19 tahun kembali kepada pangkuan Islam. 

Anggia sahabatku memelukku, kami berdua menangis dikamarnya. “Hermana Anggia, te a mo por el poder de Allah.” Aku mengucapkan lirih kata itu. (Saudara ku Anggia, aku mencintaimu karena Allah). 

“Tiada paksaan dalam memasuki Islam. Telah jelas perbedaan jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (Al-Baqarah : 256).